Slug : Ancaman Krisis Pangan Dunia
Type : Package
Rep /
On air : 12 Juni 2009
VISUAL NARASI
PRESENTER IN VISION
ROLL PACKAGE
(Video-video suasana pasar dan segala hal yang berhubungan dengan perekonomian secara global)
Lead in
Ancaman krisis pangan dunia sebenarnya telah dikomunikasikan sejak tahun 2006. Selama enam tahun berturut-turut, konsumsi biji-bijian pangan dunia lebih besar daripada produksi dunia. Bahkan tahun 1999, stok pangan dunia masih dapat memenuhi kebutuhan selama 116 hari, tetapi pada tahun 2006 hanya tinggal 57 hari. Semua ini tidak lepas dari kebijakan organisasi-organisasi dunia yang terus mendorong liberalisme perdagangan. Negara-negara berkembang yang sebagian besar di
VISUAL
(Grafik Data)
(Data-data yang tersedia dan telah disusun dalam grafik batang)
VISUAL
Kondisi Rapat Krisis Pangan Dunia oleh Jacques Diouf.
VISUAL
(Live On Tape)
Putaran gambar/video yang berkaitan dengan kondisi negara-negara yang dilanda krisis pangan
VISUAL
(Live On Tape)
Wawancara dengan direktur IMF, Dominique Strauss - Khan dalam pertemuan dengan menteri keuangan di Wahington DC.
VISUAL
(Live On Tape)
Penjelasan mendalam yang disampaikan oleh Narator
VISUAL
(Live on Tape)
Wawancara dengan Kepala Pusat Distribusi Pangan Badan Ketahanan Departemen Pertanian, Ning Pribadi.
ROLL PACKAGE
Laporan FAO (Food and Agriculture Organization) menunjukan indeks harga pangan meningkat rata-rata 9% pada tahun 2006 dibanding tahun 2005. Tahun 2007, indeks harga pangan naik menjadi 23% dibanding tahun 2006. Dalam Food Outlook, diramal oleh FAO hingga tahun 2017 harga pangan akan terus meroket, sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak makan sebesar 50%. Data menunjukan bagaimana harga CPO minyak mentah kelapa sawit di pasar internasional sudah menembus harga US$ 1,200/ton. Apalagi kini penggunaan produk CPO bukan lagi sekedar untuk minyak makan saja, tetapi menjadi bahan
Komoditi gandum pada periode 2007/2008 diperkirakan produksinya hanya 604 juta ton, ditambah stok periode sebelumnya sebanyak 125 juta ton, maka total pasokan menjadi sekitar 729 juta ton. Berarti, stok akhir di pasaran internasional hanya tinggal 110 juta ton, karena total kebutuhan gandum di seluruh dunia yang sebanyak 619 juta ton. Posisi tersebut merupakan yang terendah sejak tahun 1982. Pada tahun 2006/2007 stok akhir gandum mencapai 125 juta ton dan pada 2005/2006 sekitar 148 juta ton. Keadaan seperti ini menyebabkan harga komoditi gandum menembus US$ 320/ton, padahal pada periode 2006/2007 hanya US$ 200/ton.
Dalam laporan FAO, satu-satunya produk pangan yang turun hanyalah gula, yakni turun 32%. Hal ini karena produksi gula di negara-negara berkembang termasuk
“Secara naluri, orang tidak akan diam bila kelaparan. Mereka pasti bertindak.”
Berdasarkan catatan FAO, sebanyak 37 negara menghadapi krisis pangan, termasuk
Selain peringatan FAO, IMF (International Monetery Fund) menjadi lembaga global yang juga memperingatkan dampak buruk naiknya harga pangan bagi warga miskin.
“Banyak orang mengalami kelaparan yang kemudian bisa memicu kerusuhan sosial.”
Selama tahun lalu menurutntya harga panen, yaitu beras, gandum, dan jagung melonjak tinggi. Beras misalnya, naik 70%. alasannya jelas, panen yang jelek tanah semakin turun dan berkurang kesuburannya serta cuaca yang tidak mendukung, mengakibatkan bertambahnya jumlah lahan untuk tanaman bahan bakar nabati.
“Harga yang lebih tinggi menyebabkan kesulitan bagi banyak orang.” lanjutnya.
Komite Penghapusan Hutang Negara-Negara Dunia Ketiga, justru menilai kebijakan imperialistik IMF dan Bank Dunia sebagai biang keladi krisis pangan di negara-negara miskin. Dalam laporan BBC, komite yang berpusat di Belgia itu menegaskan, IMF dan World Bank (Bank Dunia) sejak 20 tahun lalu memaksa negara-negara selatan menerapkan kebijakan yang dibuat kedua lembaga dunia itu, sehingga menyebabkan kerugian besar bagi negara-negara tersebut. Kenaikan harga pangan hingga menjadi ancaman krisis pangan yang kini dirasakan di berbagai negara dunia juga tidak lepas dari pengaruh perubahan kebijakan di pasar global yang dibuat lembaga dunia tersebut. Salah satunya adalah konversi produk pangan ke energi yang membuat harga pangan di pasar internasional terkerek naik. Komite ini menambahkan, kini rakyat di negara selatan, termasuk
“Akibat persaingan penggunaan produk pangan dan energi,



